Pengalaman Berkesan Mengunjungi Dua Lembaga Nuklir kebanggaan Indonesia

Banyak orang yang Phobia dan memberi stigma negatif ketika mendengar kata nuklir sebab  yang terbayang di benak mereka Nuklir itu adalah bom pemusnah massal yang pernah dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki Jepang. atau mungkin yang terbayang adalah Negara-negara pemilik Bom Nuklir seperti  Korea Utara, Iran, India dan lain-lain. sebenarnya sih nggak salah tapi nggak sepenuhnya benar juga, masih banyak manfaat nuklir bagi tujuan perdamaian dan kesejahteraan umat manusia lho..

“Peristiwa Bom Atom (nuklir) dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima Jepang pada tahun 1945 yang menewaskan ratusan ribu jiwa manusia”

 “Kasus kecelakaan nuklir di sejumlah reaktor nuklir dunia seperti misalnya di Amerika Serikat pada tahun 1979 yang terkenal dengan nama Three Mile Island-2, lalu di Uni Sovyet dengan peristiwa Cernobil-4 nya dan terakhir peristiwa Fukushima di Jepang”

Kedua peristwa di atas diakui atau tidak telah ikut andil menciptakan rasa takut (phobia)  di benak orang-orang di seluruh dunia khususnya di Indonesia.

Film HULK berperan menebar Hoaks tentang efek Nuklir (jika terpapar sinar/radiasi nuklir Manusia akan berubah jadi Monster)

Saya mencoba melakukan survey di beberapa grup whataspp dengan menanyakan pendapat mereka tentang Nuklir, dan hasilnya, sebagian besar responden memberikan citra negatif terhadap nuklir,  nuklir masih dianggap sebagai bom yang membahayakan kehidupan manusia.  Pro dan kontra tentang nuklir masih terus berlangsung hingga saat di seluruh dunia. paramaternya di Indonesia, banyak yang menolak rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia dan menolak Reaktor Nuklir.

Pertanyaannya, Apakah betul nuklir itu berbahaya ?

Anggapan ini tidak salah tapi juga tidak sepenuhnya benar, mungkin saja karena kurangnya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai manfaat lain dari nuklir bukan hanya sebagai BOM tapi juga berguna bagi perdamaian dan kesejahteraan manusia. Tugas pemerintah dan Media serta Blogger untuk mensosialisasikan ini.

Berbicara nuklir di Indonesia tidak lepas dari peran dua lembaga pemerintah ini, yakni Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dan Badan Tenaga Nulir Nasional (BATAN). Tapi  sangat disayangkan  masih banyak masyarakat yang belum mengetahui kedua lembaga tersebut.  So, Yuk mari mengenali Bapeten dan Batan.

 

 

Sejarah Lahirnya BAPETEN dan BATAN

Latar belakang lahirnya lembaga ini dimulai ketika pada tahun 1950 saat beberapa negara khususnya Amerika serikat melakukan percobaan ledakan nuklir di kawasan Pasifik. Oleh Presiden Soekarno kala itu, menugaskan Menteri Kesehatan Prof Gerrit A Siwabessy untuk menyelidiki dan mengawasi efek yang ditimbulkan dan melaporkan kepada pemerintah (tahun 1954-1964).

Kemudian, pada tahun 1964 lahirlah Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang bertugas melaksanakan riset tenaga nuklir dan mengawasi penggunaannya.  Terdapat Satu unit khusus di bawah BATAN yaitu Biro Pengawasan tenaga Atom (BPTA) pada 1997 ini lah nantinya sebagai cikal bakal BAPETEN yang ada sekarang ini.

Pada 8 Mei 1998 berdasar  UU No.10/1997 tentang ketenaganukliran,  BAPETEN Resmi terbentuk. Menurut Undang-undang tersebut, BAPETEN berwenang melaksanakan fungsi pengawasan terhadap penggunaan tenaga nuklir di Indonesia, termasuk menerbitkan perizinan operasional, inspeksi, dan penegakan aturan. UU ini juga menandai pemisahan antara BATAN dan BAPETEN.

 

Kepala Bagian Humas dan Protokoler BAPETEN Abdul Qohhar memaparkan grafik laju dosis di Monitor

Nuklir Perlu Pengawasan?

Kita mengetahu bahwa setiap teknologi yang digunakan manusia tidak lepas dari resiko atau ancaman bagi keselamatan pengguna (masyarakat), contohnya teknologi transportasi berapa banyak korban  yang diakibatkan oleh kecelakaan transportasi? Konon kabarnya jumlahnya hampir setara dengan jumlah korban perang teluk. Sama halnya dengan potensi ancaman dari penggunaan tenaga nuklir, pasti terjadi karena faktor alam atau bisa juga karena faktor kelalaian manusia (human error. Human error terjadi biasanya karena ketidaksengajaan dan kesengajaan (sabotase dan terorisme), sementara faktor alam bisa karena gempa atau bencana alam lainnya seperti yang terjadi di Reaktor Nuklir Fukushima Jepang. Untuk memperkecil resiko bahaya dari penggunaan teknologi nuklir di Indonesia, pemerintah telah membentuk satu lembaga khusus yang bertugas sebagai sebagai pengawas yaitu Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). BAPETEN bertugas memastikan keselamatan dan keamanan penggunaan nuklir di Indonesia.

Oleh karena itu, BAPETEN telah membuat grand design kesiapsiagaan dan kedaruratan nuklir yang dinamakan I-Consep atau Pusat Keamanan Nuklir dan Kesiapsiagaan kedaruratan.

BAPETEN telah membangun sejumlah infrastruktur deteksi dini yang dipasang di beberapa tempat antara lain 6 detektor di Serpong, 1 di Bandung, 1 di Yogyakarta,dan 1 lagi di Istana negara.

Dalam melakukan upaya penanggulangan bahaya Nuklir, BAPETEN juga berkoordinasi dengan berbagai institusi seperti Kepolisian, Kemenlu, TNI, BNPT, BATAN, Menteri Pertahanan, Kementerian Kesehatan, BMKG, Kementerian Perhubungan, dan BNPB.

Dengan adanya BAPETEN, masyarakat  tidak perlu lagi khawatir (phobia) terhadap  nuklir  sebab Nuklir itu aman jika semua sesuai dengan SOP.

 

dua pegawai BATAN yang bertugas di Iradiator Merah Putih menjelaskan manfaat radiasi bagi berbagai produk

Manfaat Nuklir

Ternyata nuklir  memiliki  banyak manfaat bagi kehidupan manusia di berbagai bidang seperti kesehatan, pertanian, industri, energi dan penelitian.

Dalam bidang medis contohnya, teknologi nuklir (radioisotop)dipakai untuk mendiagnosa dan mengobati sejumlah penyakit salah satunya kanker. Aplikasinya biasa dinamakan radiodiagnostik, radioterapi, ct-scan dan mammografi atau Renograf. Contohnya untuk mengobati penyakit kanker. Radioisotop (radiasi nuklir) juga digunakan untuk mensterilkan jarum suntik, perban dan peralatan medis lainnya.

Dalam bidang pertanian radiasi nuklir digunakan untuk menghasilkan tanaman varietas  unggul seperti padi, kedelai, kacang hijau, gandum dan kapas yang yang memiliki produktifitas tinggi, tahan hama penyakit, memiliki daya adaptasi tinggi dan rasa serta kualitas yang baik. Sementara untuk pangan, nuklir digunakan untuk mengawetkan makanan, juga untuk mengontrol pematangan buah dan sayura, kentang, bawang, buah, dan sebagainya.

Dalam bidang peternakan Aplikasi nuklir digunakan untuk menghasilkan ternak yang memiliki produktifitas tinggi, tahan penyakit dan cuaca, dan meningkatkan produktivitas dan kesehatan hewan ternak.

Dalam bidang Industri dan pertambangan, radio isotop digunakan untuk memeriksa dan mendeteksi kebocoran, mempelajari laju memakai logam, dan menganalisis berbagai mineral dan bahan bakar, mendeteksi polutan di lingkungan, mempelajari gerakan air permukaan di sungai dan juga air tanah.

Masih banyak lagi pemanfaataan nuklir untuk tujuan perdamaian dan kesejahteraan manusia seperti sebagai pembangkit energi listrik dan penelitian.

Berkunjung ke BAPETEN dan BATAN

Selasa 25 September 2018, BAPETEN mengadakan acara Media Gathering bersama puluhan Media dan Blogger di Hotel Harris Vertu Harmoni Jakarta Pusat.  Acara diisi dengan berbagai kegiatan sosialisasi yang disampaikan dua orang narasumber dari BAPETEN yakni Kepala Bagian Humas dan Protokoler BAPETEN Bapak Abdul Qohhar dan Kepala Sub Bagian Humas Mbak Retno Agustyah. Selama hampir dua jam, kedua narasumber memberikan pembekalan tentang apa itu Nuklir, manfaat dan resikonya, bagaimana sih cara kerja BAPETEN sebagai lembaga Pemerintah Non-Kementerian yang mengawasi penggunaan Nuklir dan banyak wawasan lainnya. Setelah itu, kami pun diajak  mengunjugi kantor BAPETEN yang terletak di Jalan Gajah Mada No. 8 Jakarta Pusat. Ada tiga bagian Gedung di sana, yaitu Geung A, B dan C.

Kantor Direktorat Kesiapsiagaan Nuklir berada di Gedung C.  Di sana kami diajak menyaksikan Ruang EWS (Early Warning System) atau DSS (Decisionb Support system), dan Ruangan Subdit Keteknikan. Ruang EWS (Early Warning System) atau DSS (Decision Support system) adalah ruang untuk memonitoring secara realtime situasi yang terjadi di Reaktor nuklir yang ada di Serpong, Bandung dan Yogyakarta. Monitor berisi grafik yang menunjukkan laju dosis (dosis radioaktif) di lokasi tiga lokasi tersebut.

Lanjut ke  Ruangan kedua, Ruangan Subdit Keteknikan. Di sana ada dua orang petugas yang siap memandu dan menjawab setiap pertanyaan kami. Petugas menjelaskan nama-nama dan fungsi peralatan detektor (mendeteksi Radioaktif) yang biasa digunakan petugas di lapangan. Detektor dan perlengkapan lainnya selain canggih juga mahal, jika ditotal harga keseluruhan bisa mencapai triliunan rupiah kata salah satu petugas.

Kunjungan ini memberikan saya banyak wawasan khususnya terkait peran dan tugas BAPETEN yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat. BAPETEN adalah garda terdepan dalam mengawasai dan memberi rasa aman bagi masyarakat dari ancaman Nuklir. Salah satu prestasi terkini yang dicapai BAPETEN adalah berhasil mengamankan perhelatan olahraga antar negara-negara Asia, yakni Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang, salute !!!

Selanjutnya agenda hari kedua,  pagi-pagi kami sudah meluncur menggunakan dua bis milik BAPETEN menuju Kawasan Nuklir Serpong, yang biasa dikenal dengan nama Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), pusat reaktor nuklir terbesar di Asia Tenggara. Setelah hampir tiga jam perjalanan dari Kantor BAPETEN Jakarta, bis yang kami tumpangi pun memasuki kawasan Puspitek Serpong. Di atas lahan seluas 500 hektar ini lah BATAN berada.

Untuk Komplek BATAN sendiri memiliki luas sekitar 30 hektar di dalamnya di  terdapat berbagai fasilitas nuklir salah satunya adalah Reaktor Nuklir  GA Siwabessy diambil dari nama Siwabessy Menteri Kesehata pada Era Presiden Soekarno, selain itu,  ada juga Iradiator Gamma Merah Putih, dan sejumlah fasilitas nuklir lainnya.

Sebelum memasuki  Reaktor Serba Guna GA terlebih dahulu dilakukan Securuty check, barang bawaan, seperti tas, Handphone, kunci dan peralatan lainnya tidak diperkenakankan dibawa ke dalam area.

Pertama, kami ke Gedung 71, di mana sudah ada M Awwaluddin dan Agung Satriyo pegawai BATAN yang telah siap memberikan materi pembekalan terkait profil dan sejarah BATAN  dan cara kerja Reaktor Nuklir. Dijelaskan bahwa BATAN sempat dikunjungi sejumlah tokoh masyarakat yang menolak keberadaan reaktor di sana.

Selesai di Gedung 71, kami pun beranjak dan berjalan kaki menuju Reaktor Serba Guna GA Siwabessy. Kesan yang muncul saat pertama kali menginjakka kaki di gedung ini, adalah rasa senang bercampur bangga bagaimana tidak, saya berkesempatan melihat langsung reaktor nuklir terbesar se-Asia Tenggara, kesempatan yang bisa jadi tidak akan terulang lagi. Para petugas pemandu yang ada di sana pun ramah dan cekatan menjawab setiap pertanyaan yang kami ajukan.

Setelah dilakukan pemeriksaaan kembali oleh petugas kemananan, Rombongan pun dibagi menjadi beberapa kelompok yang mana masing-masing kelompok dipandu oleh satu petugas dari pegawai senior BATAN.  Di lantai dua, semua peserta diminta mengenakan pakaian dan sepatu khusus lalu satu persatu kelompok antri memasuki ruangan reaktor.

Kesan saya seperti memasuki sebuah laboratoirum dimana di dalamnya terdapat sebuah kolam yang berisi air dan sejumlah perangkat logam yang terendam di dalamnya. Di sini lah proses reaksi nuklir terjadi. Cuma sayang, saat itu  reaktor dalam keadaan shut down (dimatikan sementara).  Setelah menyaksikan langsung keadaan di sana, ditambah penjelasan lengkap dari pertugas, kami pun merasa yakin bahwa reaktor nuklir sebenarnya sangat aman sebab telah didesain sedemikian rupa dengan sistem pengamanan otomatis. Jika sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka sistem otomatis akan bekerja secara otomatis. Jika terjadi over heat (pemanasan berlebihan) sistem pendingin akan bekerja sedangkan jika terjadi misalnya kebocoran  maka sistem akan shutdown dengan demikian dampak yang ditimbulkan bisa dilokalisir. Keren !!!

Selesai dari sana, kami pun menuju ke Iradiator Merah Putih (IMP). Lokasinya Hanya berjarak beberapa meter dari reaktor serba guna GA Siwabessy. Di sini adalah tempat meradiasi berbagai produk baik itu makanan maupun peralatan medis. radiasi makanan bertujuan untuk mengawetkannya sedangkan radiasi peralatan medis bertujuan untuk mensterilkannya. Menurut petugas, waktu yang dibutuhkan untuk sekali radiasi tergantung jumlah dan jenis produknya,  biasanya berkisar 4-7 jam. Perlu diketahui, teknik radiasi dijamin aman bagi makanan karena tidak menyisakan residu/ampas. Bandingkan dengan cara pengawetan lainnya yang menggunakan bahan kimia yang tidak baik bagi kesehatan. Tertatik mengawetkan makanan dengan radiasi? Datang aja langsung ke Iradiator Merah Putih di kawasan BATAN Serpong.

Infografis/zainal

Akhirnya, kunjungan demi kunjungan sudah kami lalui. Selama dua hari mendapatkan pembekalan mengenai nuklir dan dua lembaga di dalamnya yakni BAPETEN dan BATAN, hasil kunjungan itu saya rangkum sebagai berikut :

  1. Teknologi Nuklir bukan barang baru di Indonesia, ia sudah lama diterapkan di Indonesia, Seokarno ternyata memiliki visi hebat dan jauh ke depan.
  2. Sumber daya manusia Indonesia yang menguasai teknologi ini tidak kalah dengan SDM negara maju seperti Amerika Serikat dan Jerman.
  3. Kita patut bangga karena Kita memiliki reaktor Nuklir terbesar se Asia Tenggara.
  4. Nuklir tidak seseram yang saya bayangkan selama ini, ia justru memiliki banyak manfaat bagi kesejahteraan manusia.
  5. Penggunaan teknologi nuklir khususnya untuk energi diyakini sangat aman, efisien dan ramah lingkungan kendati pemerintah belum sepenuhnya yakin untuk membangun PLTN di negeri ini.
  6. Terakhir, Pengawasan penggunaan nuklir di Indonesia telah sedang dan akan dilakukan oleh BAPETEN bekerjasam dengan berbagai institusi dalam dan luar negeri.

Yuk saksikan Video Kunjungan saya di Sini 

Related Posts

About The Author

15 Comments

  1. Agus sularno
    September 28, 2018
  2. Oktaviyani
    September 29, 2018
    • hattamksr@gmail.com
      September 29, 2018
  3. Eko edi
    September 29, 2018
    • hattamksr@gmail.com
      September 29, 2018
  4. Eko edi
    September 29, 2018
  5. Nadya ushwah hasanah
    September 29, 2018
    • hattamksr@gmail.com
      September 29, 2018
  6. Desi
    October 5, 2018
  7. Desi
    October 5, 2018
    • hattamksr@gmail.com
      October 5, 2018
  8. Najmi Alexander
    October 5, 2018
    • hattamksr@gmail.com
      October 6, 2018
  9. Aida
    October 24, 2018
    • hattamksr@gmail.com
      October 24, 2018

Add Comment