Kapolri Tito Karnavian kena Tilang, Kok Bisa?

Berbaju kaos oblong,  bertopi dan berkacamata hitam, seorang pria dengan penuh percaya diri mengendarai motor tanpa memakai helm di Jalan Raya Sudirman-Thamrin, di belakangnya ia membonceng seorang wanita paruh baya, Sontak saja, Firman seorang Polisi Lalu Lintas yang tengah bertugas, meminta pria tersebut berhenti dan menepikan kendaraanya.

Kurang lebih dialognya seperti ini. “Selamat siang, Mohon Bapak memperlihatkan surat-suratnya,” ujar Firman kepada pria berkacamata di depannya yang rupanya, adalah orang nomor satu di kepolisian Indonesia, Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian. Tapi jangan kaget, peristiwa di atas bukanlah kejadian nyata tapi salah satu  adegan di salah satu film aksi Indonesia terbaru berjudul “22 Menit”. Kok bisa, Pak Tito terlibat di film tersebut?

Bukan hanya Kapolri, Mantan Dirreskrimum Polda Metro Jaya Brigjen.pol. Krisna Murti pun ikut serta menjadi pemain film di sini. Penasaran kan? Nah saya jelaskan.

Siang tadi, Senin 16 Juli 2018 bertempat di XXI Epicentrum Jakarta Selatan, sedang berlangsung pemutaran film terbatas Media (Pers Screening) Film Berjudul “22 Menit”.

Film ini terinspirasi dari teror bom  yang mengguncang  Jalan Protokol Thamrin Jakarta dua tahun lalu disutradarai oleh Eugene Panji dan Myma Paramita dari Rumah Produksi Buttonijo Films.

Berkisah tentang upaya pihak kepolisian dalam mengatasi serangan teroris dalam tempo singkat hanya berkisar 22 menit saja. Ada yang selamat tapi tak sedikit juga yang luka parah bahkan tewas. Bersama warga masyarakat, Polisi bisa mensterilkan TKP.

Dibintangi aktor kawakan Ario Bayu yang berperan sebagai Ardi, salah satu anggota pasukan anti terorisme yang rela bertaruh nyawa demi keselamatan orang banyak. Ardi dibantu tim Densus dan Gegana serta seorang polisi lalu lintas bemama Firman (yang diperankan Ade Firman Hakim).

Meskipun berlangsung singkat, hanya 22 menit tapi insiden tersebut telah mengubah hidup orang banyak untuk selamanya. Memberikan pelajaran berarti kepada kita semua bahwa terorisme bisa dilawan dan kita jangan takut. Netizen pun merespon dengan munculnya tagar #KamiTidakTakut di media sosial sebagai bentuk dukungan kepada pihak keamanan, dalam hal ini POLRI.

Yang menarik Film, “22 Menit” juga mengangkat sisi humanisme yang menimpa wong cilik yang ikut menjadi korban, seperti misalnya salah satu office boy bernama Anang (Ence Bagus), dua karyawati bernama Dessy (Ardina Rasti) dan Mitha (Hana Malasan), serta Shinta (Taskya Namya).

Dengan demikian, penonton tidak hanya disuguhkan kisah heroik Polisi semata tapi kita juga disadarkan bahwa korban bom  adalah masyarakat kecil yang tak berdosa, mereka yang sehari-hari berjuang mencari nafkah untuk keluarganya. Bagi teroris mungkin aksinya dinilai sebuah jihad, tapi apakah jihad model seperti itu yang islam kehendaki? Saya menjawab, tentu saja bukan. Aksi teroris tidak identik dengan islam atau agama manapun, meskipun kenyataannya banyak yang mengatasnamakan islam.

Satu hal lagi yang saya salut dengan film ini, kejelian sang sutradara untuk tidak menggunakan istilah Bom Sarinah, sebagaimana istilah yang disematkan sejumlah media saat itu, pemakaian istilah Bom Sarinah tidak hanya keliru tapi juga berimbas menurunnya jumlah pengunjung ke Ikon Pusat perbelanjaan Jakarta, sebagaimana yang pernah dikeluhkan salah satu direksi PT. Sarinah kepada Penulis beberapa waktu lalu. Sepanjang durasi film, hanya ada Bom Thamrin, dan itu tepat !! di sini kejelian sang sutradara…

****

Ade Firman Hakim (kanan) dan pemeran lainnya dalam Film 22 Menit. (dokpri)

Duet Sutradara Eugene dan Myrna sengaja menggandeng penulis naskah Husein M. Atmojo & Gunawan Rahatja untuk meramu cerita agar terlihat dramatis dan menarik. Terbukti, saya merasa terhibur dengan kisah dramatis dan menegangkan yang coba ditampilkan di film ini.

Hanya saja, Eugene mengingatkan penonton dan calon penonton bahwa film ini bukan film dokumenter bukan pula tapi hanya sekedar terinspirasi dari Kisah Bom Thamrin meskipun kata dia 70 persen adegan berdasar kejadian yang terjadi di TKP. Ia menegaskan bahwa “22 Menit” tidak dimaksudkan sebagal dokumentasi dari kejadian tersebut.

“Kami mendramatisir beberapa bagian dari peristiwa bom Thamrin untuk keperluan bercerita lewat medium film. Kami berniat menyuguhkan sajian teknologi canggih ke layar lebar,” kata Eugene.

Sementara itu, Myrna menjelaskan dirinya melakukan penelitian di Kepolisian Republik Indonesia selama setahun sebelum produksi dimulai, pihak Buttonijo rajin berkonsultasi dengan aparat kepolisian demi akurasi adegan. Sisi lain, sejumlah aktor yang terlibat adegan baku tembak diwajibkan untuk mengikuti boot camp agar bisa tampil meyakinkan.

Bahkan katanya, Buttonijo juga membangun maket kedai kopi dan pos polisi dalam ukuran nyata 1:1 untuk diledakkan secara sungguhan.

“Kami menggunakan CGI untuk banyak adegan action di ’22 Menit’ Contohnya, adegan baku tembak antara polisi dan teroris. Lalu, karena ledakan kedai kopi dan pos polisinya beneran, kami juga harus pakai green screen untuk menggambarkan situasi Thamrin saat itu,” terang Myrna.

Untuk musik, Buttonijo mempercayakan kepada komposer Andi Rianto.Andi mengaku gembira bisa bergabung dengan tim kreatif “22 Menit.”

“Menurut saya, jalan cerita 22 Menit sangat menarik dan adegannya sangat bercerita.Apalagi adegan actionnya saya berharap sentuhan scoring yang saya buat mampu menghadirkan sisi emosional di film ini, ”

Sementara Soundtrack dibawakan secara syahdu oleh Semenjana. Menurut Satrio Pinandito dan’ Semenjana, lagu yang diambil dari album mereka yang berjudul “Kalimatera” ini diciptakan sebagai wujud rasa sayang terhadap kota yang telah membesarkan mereka.

“Lagu ini kami tujukan untuk mereka yang seringkali merasa benci tapi rindu dan sayang kepada ibukota kita, Jakarta. “Kami semua besar dan mengalami hidup di kota ini dan banyak peristiwa yang terjadi di dalamnya. Segala rasa manis, asam dan asin kami tuangkan ke dalam lirik dan alunan Iagu yang damai ini,” ungkap Satrio.

Film ini mendapat dukungan penuh dari salah satu perbankan milik pemerintah dan juga Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dalam rangka memperingati HUT Bhayangkara ke 72.

Penasaran dengan aksi heroik di Film “22 Menit”?  saksikan di bioskop  Indonesia mulai 19 Juli 2018. (HT)

Ario Bayu (tengah) pemeran Ardi Polisi Anti Teroris (dokpri)

Firman berani menghentikan motor yang dikendarai Jenderal Tito K 😀 (foto/Tandaseru.id)

 

Related Posts

About The Author

Add Comment