Duta Cerita, Storytelling dan Perlawanan atas Diskriminasi di Indonesia

Hai guys, kali ini saya ingin sedikit berbagi cerita pengalaman saya semalam mengikuti Event CeritaFest 2018 di salah satu resto di Kemang Selatan Jakarta. Sebelumnya saya ingin bertanya apa itu Storytelling dan sudah pernah dengar tentang Komunitas Duta Cerita?  Nah,  saya ingin memberikan sebuah anekdot yang saya dapatkan dari seorang blogger traveller bernama Windy Ariestanty,kata dia “orang lebih senang dikasih cerita daripada dikasihtahu”, soal ini kalian bisa baca di tulisan saya di sini. Di sisi lain, pernah gak kalian merasa lega usai bercerita atau curhat kepada orang lain, sepeeti ada sebuah beban yang tersalurka sehingga kalian merasa lebih enak menjalani kehidupan selanjutnya. Itu semua adalah kekuatan bercerita atau the power of storytelling.

Storytelling adalah teknik menyampaikan cerita atau kisah dengan gaya, intonasi dan alat bantu yang menarik minat pendengar. Cara komunikasi model ini sangat efektif dalam menyampaikan pesan tertentu ke orang lain, karena sifatnya yang lebih informal dan personal. Storytelling bisa digunakan dalam dunia tulis menulis maupun public speaking. Seseorang dapat menyampaikan berbagai perasaan dan pemikirannya kepada orang lain melalui storytelling.

Dalam kitab-kitab berbagai agama pun lebih banyak menukil sebuah cerita tatkala menyampaikan sebuah pesan, hikmah atau pelajaran.

Role Play Storytelling dalam sebuah Grup Kecil

Lalu, bagaimana jika Storytelling digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan, keseteraaan, persamaan, inklusifitas, dan jenis dan upaya melawan diskriminasi?

Terkait itu, The Habibie Center membuat sebuah gerakan sosial yang diberi nama CERITA atau Community Empowerment for Raising Inclusivity and Trust through Technology Application. Ini merupakan cara yang digunakan untuk melawan diskriminasi, mendukung inklusivitas, dan membangun kepercayaan antar elemen masyarakat yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan antargolongan di Indonesia.

Anggotanya sejumlah 144 orang yang berasal dari berbagai profesi yang datang dari 5 kota di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Malang, Jogyakarta dan Solo. Mereka dilatih selama satu tahun terkait teknik bercerita dan berdialog dengan baik. Selama kurun satu tahun sejak berdiri, berbagai kegiatan workshop telah digelar untuk menyebarluaskan spirit tersebut.

Puncaknya terjadi pada hari ini, Sabtu 24 Maret 2018 dengan digelarnya event CeritaFest 2018 di Jakarta. Ini sebagai ajang kopi darat pertama dan dengan mengundang seluruh Anggota Duta Cerita yang berasal dari lima kota di Jawa yang dipusatkan di Jakarta. Nantinya event yang sama akan digelar juga di kota lainnya.

Selama seharian, berbagai kegiatan dilakukan seperti mini workshop storytelling, Mini workshop Dialogue fasilitation dan puncaknya pada malam hari dengan CeritaFest EkstraVaganza. Malam itu, seluruh Duta Cerita hadir seseruan dengan sesama Duta Cerita sambil menguji kemampuannya bercerita di atas panggung.

Direktur Eksekutif The Habibie Center Rahimah Abdulrahim bersama tamu istimewa lainnya nampak hadir seperti Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik, Herman Josis Mokalu (Yosi Project Pop), Aktris Ayu Laksmi, Stephen Shashoua (Founder Plan C Amsterdam) dan Abdul Rehma Malik (Program Manager Radical Middle Way. London).

Menurut Direktur Eksekutif The Habibie Center Rahimah Abdulrahim  CeritaFest ini adalah bentuk celebration atau perayaan Dari para Duta Cerita yang telah dilatih selama satu tahun, storytelling platform dimana kita melatih anak-anak muda Indonesia bercerita tentang keragaman.”

“Storytelling semua keluar dari hati, menceritakan pengalaman-pengalaman diskriminasi yang mereka alami,”jelasnya.

“Dengarkanlah cerita saya, Storytelling sangat kuat disitu,” imbuhnya.

Menurutnya, komunitas (Duta Cerita)  bisa menciptakan save space atau ruang aman bagi semua orang untuk berdialog,” imbuhnya.

Alasannya kata Rahimah Indonesia saat ini semakin terkotak-kotak makin banyak ada orang yang  menarik garis antara kita dan mereka, bahwa kita sudah melupakan Bhinneka tunggal ika dan prinsip-prinsip Pancasila.

“semua orang sama aja, gak ada yang lebih dari yang lain,” kata Rahimah.

Direktur Eksekutif The Habibie Center Rahimah Abdulrahim (kanan)

Abdul Rehma Malik (Program Manager Radical Middle Way. London).

saya dan 140 an Duta Cerita berfoto bersama setelah workshop Storytelling di Jakarta

bersama Abdul Rehma Malik (Program Manager Radical Middle Way. London).

Related Posts

About The Author

6 Comments

  1. Titim Nuraini
    March 26, 2018
    • hattamksr@gmail.com
      July 18, 2018
  2. Catcilku
    April 30, 2018
    • hattamksr@gmail.com
      July 18, 2018
  3. Achmad Humaidy
    August 20, 2018
    • hattamksr@gmail.com
      August 23, 2018

Add Comment